Cerpen "Pahitnya Kebohongan"





PAHITNYA KEBOHONGAN

Takdir hidup dalam sebuah keluarga tidak bisa kita pilih, karna takdir yang telah kita peroleh sejak lahir itulah kehidupan yang harus kita jalani, begitupun dengan hidup yang kurang dari kata sederhana,  yang harus kita perbuat untuk memperbaiki kehidupan saat ini ialah bagaimana kita bisa mengangkat derajat keluarga kita, yang awalnya tidak dianggap oleh orang lain karna kemiskinan yang ada dalam keluarga menjadi keluarga yang di hargai dan dianggap dalam masyarakat. Dan inilah kisahku dan keluargaku.
Pagi yang indah untuk memulai hari baru dikelas yang baru, ya aku baru lulus SMA dan masuk kuliah dengan beasiswa yang aku peroleh karna kerja keras ku dalam belajar. Mauriza adalah nama ku dalam sehari hari aku biasa dipanggil riza. “ibu ayah aku berangkat kuliah dulu ya, doa’kan dihari pertama aku kuliah semoga lancar dan mendapat ilmu yang bermanfaat untuk kedepannya”, ibu memberiku uang saku 10 ribu, aku menerimanya dengan senang hati karna bagiku uang segitu sudah banyak, mungkin bagi anak anak lain yang satu kuliah dengan ku uang segitu tidak ada apa-apanya tapi bagiku itu adalah sudah sudah lebih dari cukup.
Sama seperti yang kubayangkan selama ini, ditempat kuliahku banyak sekali orang kaya dan memakai mobil mewah, tapi tidak semuanya orang kaya kebetulan aku berteman dengan seorang laki laki yang bernama fais yang juga mendapatkan beasiswa dan dia dari kalangan yang sama dengan ku yaitu dari keluarga sederhana. Kami menjadi teman baik dan sering curhat satu sama lain.
Sepulang kuliah aku membeli sesuatu ditoko dan bertemu dengan tetangga lama yang dulu pernah tinggal dikampung ini, orang itu bertanya padaku pakah kamu anaknya rahma (kakak ku) dengan percaya diri dan sopan aku jawab “ maaf ibu saya anaknya ibu latifah kalau rahma itu kakak saya”. Setelah itu aku langsung pergi dari toko dan masih cuek dengan pertanyaan yang kudengar tadi sewaktu ditoko.
Keesokan harinya aku melintas didepan ibu ibu yang sedang ngerumpi dan kebetulan ada ibu-ibu kemarin yang bertanya padaku, tak sengaja aku mendengar mereka membicarkanku dan keluargaku mungkin hal itu sudah biasa bagiku mendengar hal seperti itu, tapi saat ibu yang kemarin bertanya pada tetanggaku tentang siapa ibu ku timbul pertanyaan besar dalam hati dan pikiranku apa maksud mereka ?? Bukankah mereka sudah tau kalau aku adalah anak ibu latifah ?? Mengepa mengatakan kalau aku bukan anak ibu latifah tapi anak orang lain ??.
Sejak kejadian itu aku menjadi bingung dan mencoba bertanya kepada keluargaku yang sebenarnya, tapi belum ada dasar yang jelas akan pertanyaanku nanti, jadi aku menunggu hingga ada dasar yang jelas akan pertanyaanku ini.
Sekali lagi aku bertemu dengan ibu-ibu yang waktu itu, dia mengatakan suatu hal yang membuatku merasa terkejut dan dibohongi oleh keluarga ku sendiri, ketika aku pulang dengan rasa marah dan sedih, ibu bertanya padaku ada apa denganku sehingga aku pulang dengan keadaan seperti ini, aku tidak memperdulikan pertanyaan ibu karna aku langsung masuk kedalam kamar dan menangis dan bertanya pada diriku sendiri apakah yang ibu tadi katakan benar ?? Kalau benar mengapa keluarga ku menyembunyikan hal sebesar ini ?? Apakah menurut mereka aku tidak berhak mengetahui hal ini??.
Setiap malam minggu seluruh keluarga ku berkumpul, aku berfikir pada saat ini lah yang tepat untuk bertanya kebenaran dari keluargaku “ayah.. ibu .. aku mau bertanya sesuatu tapi kalian harus menjawabnya dengan jujur tanpa ada kebohongan lagi” keluargaku meng-iyakan permintaanku “ ibu ayah .. sebenarnya aku ini anak siapa ?? Anak ibu sama ayah atau anak kak rahma dengan suaminya yang pertama ?? “ mendengar pertanyaanku itu, mereka menyakal dan berkata kalau aku ini adalah anak mereka bukan anak kakak ku. Dengan terpaksa aku menunjukkan rekaman yang sengaja aku rekam saat aku bertemu dengan ibu-ibu yang ada di took (suara rekaman) “ apakah kamu tidak tau kalau kamu itu anaknya rahma bukan latifah yang selama ini kamu anggap sebagai ibu kamu, latifah dan zaenal itu adalah kakek dan nenek kamu bukan ayah dan ibu kamu. Tapi terserah kamu lebih percaya pada siapa tapi yang jelas kalau kamu ingin tau yang sebenarnya tanyakan pada keluargamu karna seluruh keluarga mu mengetahui hal ini . Mendengar rekaman itu mereka terdiam dan aku melihat kakakku  menangis dan tidak mau melihat kearahku. Sekali lagi aku bertanya pada mereka akan kebenaran yang sebenarnya, ayah memelukku dan berkata memang benar semua kata yang kamu dengar di rekaman itu , tapi ayah terpaksa tidak memberitahukannya padamu hanya demi kebahagiaanmu” kemudian ayah menenangkanku yang sedang kerkejut dan menangis sembari menjelaskan yang hal yang sebenarnya “diusia 16 tahun rahma menikah dengan laki-laki pilihannya walau ayah dan ibu melarangnya menikah diusia muda,  tapi pada saat itu rahma besikukuh untuk menikah, akhirnya kami menerima pernikahan itu. Beberapa bulan kemudian rahma hamil, suaminya meninggalkan rahma dan calon anaknya begitu saja, rahma sedih dan terguncang hingga kami sekeluarga memutuskan untuk merawatmu sebagai anak kami dan rahma sendiri sebagai kakakmu, hal itu bermaksudkan agar kamu tetap bisa mendapatkan kasih sayang seorang ayah dan keluarga yang lengkap”. Mendengar hal itu aku sedikit lega karna kejujuran yang mereka katakan.
Keesokan harinya aku sedikit canggung dengan keadaan yang seperti saat ini, dimana kakak ku selama ini adalah ibu kandung ku sedangkan ayah dan ibu ku selama ini adalah kakek dan nenek ku. Aku bingung harus memanggil mereka dengan sebutan apa, tapi yang ingin aku lakukan saat ini adalah mencari tau keberadaan ayah kandung ku.
Langkah pertama yang aku harus lakukan adalah bertanya kepada keluarga ku, saat aku bertanya pada mereka, mereka selalu diam tidak mau menjawab. Maka dari itu aku terpaksa bertanya pada tetangga mengenai ayah kandungku, setelah aku bertanya kepada hampir seluruh warga kampung, jawaban yang aku peroleh ialah ayah kandungku dulu meninggalkan ibu  karna dia mempunyai selingkuhan, dulu ayah tinggal di daerah kampung salak yang berada 10 km dari rumahku. Dengan meminta bantuan pada fais sahabatku, aku menghampiri kampung salak itu. Ketika aku sudah berada dilokasi, aku melihat seorang bapak-bapak berbadan kurus dan berpakaian tidak rapi. Aku dan fais memberanikan diri untuk mengahampiri orang tersebut dan bertanya mengenai ayahku, beberapa pertanyaan sudah aku tanyakan namun tidak ada jawaban yang keluar dari orang tersebut, dan malah bertanya balik padaku mengapa aku mencari orang itu (ayahku), dan aku menjawab “aku sedang mencari ayahku, yang dulu sudah meninggalkan aku dan ibuku saat aku masih didalam kandungan”. Tiba-tiba orang tersebut memelukku, namun karna perasaan takut aku melepaskan pelukan  dan berlari bersama fais.
Ditengah perjalanan pulang aku bertanya tanya siapa orang itu, dan mengapa dia memelukku seperti itu. Sesampai dirumah aku melihat Ibu kandungku duduk didalam kamarku sambil menangis, namun saat aku menegurnya dia malah pergi tanpa berkata apapun.
Beberapahari kemudian aku melihat orang yang memelukku waktu itu ada didepan rumah, saat aku hendak membuka pintu, tiba-tiba aku dihalangi oleh ibu kandungku dan mencegah  untuk membukakan pintu, aku bertanya mengapa aku tidak boleh membuka pintu ,dan ibu berkata “dia adalah mantan suamiku dan dia juga adalah ayah kandungmu, aku tidak mau kamu menemuinya lagi karna kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi sejak kejadian beberapa tahun lalu”.
Ketika ayah kandungku pergi disaat bersaman keluarga ku datang dan menyuruhku masuk kedalam kamar tapi aku tidak mau dan mulai menegaskan kepada mereka “mengapa kalian mencegah ku untuk bertemu dengan ayah kandung ku ? Apa menurut kalian hubungan antara ayah dan anak terputus karna ayah dan ibu mempunyai masalah pribadi ? Saat ini aku bertanya pada kalian seandainya suatu saat nanti aku menikah siapa yang menjadi wali nikah ku ?? Apa kalian hanya mengandalkan wali hakim yang bisa menjadi wali ku nanti. Kalau aku masih punya ayah kandung mengapa aku harus memakai wali hakim ? Ada yang namanya mantan pacar mantan istri mantan suami tapi tidak ada yang namanya mantan anak atau mantan ayah” setelah aku menegaskan hal itu aku pergi meninggalkan mereka.
Beberapa hari kemudian aku dikejutkan oleh kedatangan ayah kandungku yang sengaja diundang oleh keluarga ku untuk bertemu dengan ku, aku sangat bahagia bertemu dengan ayah kandung ku dan mereka semua mau memaafkan kesalahan ayahku beberapa tahun yang lalu. Walaupun aku tidak bisa menghabiskan waktu bersama dengan ayah tapi untuk bertemu sebentar saja aku sudah sangat bahagia karna saat ini aku mempunyai 2 ibu dan 2 ayah.


Sepahit-pahitnya kejujuran masih lebih pahit kebohongan.



Penulis : hikmah maulidia
1 Komentar untuk "Cerpen "Pahitnya Kebohongan""

Ceritanya menyentuh hati sampai terharu

Berkomentarlah secara sopan, baik dan sesuai topik tentunya ^_^

Back To Top